10 Hal Yang Tak Boleh Dikatakan Pada Orang Yang Ingin Bunuh Diri

Walau kaget, mendengar orang yang kamu sayangi berkata ingin bunuh diri tetap mengagetkan. Hati-hati, jika ingin membantunya maka hindari 10 pernyataan ini, ya.
1170
ingin bunuh diri

“Aku ingin bunuh diri!” Mendengar 4 kata itu benar-benar mengagetkan, sebuah pernyataan mengerikan dari seorang teman atau anggota keluarga yang kamu tidak ingin sampai kehilangannya. Kamu kemudian berpikir mundur. Bagaimana bisa mereka ingin mati?

 

Sepertinya kata-kata itu tak ingin kamu dengar, namun dia yang dekat di hati ini sebenarnya telah memberimu ‘hadiah’. Dia melibatkan kamu. Dengan mengatakan dia ingin mati, dia memberikanmu kesempatan untuk membantu.

 

Apa yang kamu katakan selanjutnya adalah sangat penting. Ini bisa menyebabkan temanmu atau anggota keluargamu lebih membuka diri, atau menutup dirinya rapat-rapat. Dapat dimaklumi kalau kamu penuh emosi, dan mungkin juga kamu memiliki banyak pikiran, beberapa bisa membantu, beberapa tidak.

 

Berikut adalah 10 tanggapan umum yang bisa membahayakan. Pertama, sebuah peringatan: secara umum, pernyataan-penyataan ini dapat menjadi sebuah penghakiman dan mendorong keterasingan. Tapi, bergantung pada konteksnya, beberapa orang mungkin merespon positif untuk setidaknya untuk beberapa pernyataan ini.

 

“Bagaimana bisa kamu memikirkan ingin bunuh diri? Hidupmu tak seburuk itu.”

 

 

Mungkin dari luar, kehidupan dia yang ingin bunuh diri tampaknya tidak “seburuk itu.” Rasa sakit yang terletak di bawahnya. Hal ini dapat sangat membantu orang bunuh diri untuk merasa dimengerti. Pernyataan semacam ini menyampaikan rasa tidak percaya dan penghakiman, bukan pemahaman.

 

 

“Tidakkah kamu tahu aku akan hancur jika kamu bunuh diri? Bagaimana bisa kamu memikirkan menyakitiku seperti itu?”

 

 

Orang yang kamu sayangi ini sudah sangat merasa mengerikan. Penumpukan bersalah di atas itu tidak akan membantu mereka merasa ditenangkan, dipahami, atau tak akan merasa jadi ingin bercerita lebih banyak kepadamu.

 

“Ingin bunuh diri itu egois.”

 

Ini lebih mengilhami perasaan bersalah. Ada dua poin penting di sini. Satu, banyak orang yang serius mempertimbangkan bunuh diri karena benar-benar berpikir mereka membebani keluarganya dengan tetap hidup. Jadi, dalam kesulitannya, bahkan mungkin dalam keadaan mental pikiran mereka yang sedang sakit, mereka akan membantu orang yang mereka cintai dengan membebaskan diri dari beban tersebut. Dua, bukankah ini respons alami terhadap rasa sakit luar biasa untuk berpikir membantu meloloskan diri dahulu dari siksaan tersebut?

 

“Bunuh diri itu pengecut.”

 

Ini mengilhami rasa malu. Hal ini juga tidak benar-benar masuk akal. Kebanyakan orang takut mati. Meskipun saya ragu-ragu untuk menjuluki diri ini tabah ataupun pemberani, mengatasi rasa takut akan kematian tidak membuat saya sebagai pengecut.

 

“Kamu tidak bermaksud demikian. Kamu tidak benar-benar ingin mati. “

 

Hal ini sering dikatakan sebagai hasil dari kecemasan atau ketakutan, pesan ini tidak valid dan meremehkan. Anggap orang itu benar-benar ingin mati. Pernyataan itu lebih berbahaya ketika ingin memberhentikan seseorang yang benar-benar ingin ketimbang bunuh diri daripada untuk mencegah orang yang tidak ingin bunuh diri, jadi mengapa tidak untuk menganggap mereka semua benar-benar serius ingin mati?

 

 

“Kamu memiliki begitu banyak hal untuk hidup.”

 

Dalam beberapa konteks, pernyataan semacam ini mungkin menjadi pengingat yang menenangkan akan kelimpahan dan harapan. Tapi bagi banyak orang yang berpikir tentang bunuh diri dan mereka yang sama sekali tidak memiliki banyak hal untuk hidup, pernyataan ini dapat memperlihatkan kurangnya pemahaman yang mendalam.

 

“Sesuatu bisa jadi lebih buruk.”

 

Ya, sesuatu bisa lebih buruk, tetapi mengetahui hal itu tidak menginspirasi rasa suka cita ataupun harapan. Saya membandingkannya dengan dua orang yang tertikam, satu di dada, satunya di kaki. Tentu lebih buruk ditikam di dada, tapi itu tidak membuat rasa sakit yang dirasakan orang yang ditusuk di kaki itu hilang. Masih sakit. Sangat sakit. Jadi bahkan jika orang yang berpikir untuk bunuh diri memiliki banyak hal baik yang ada untuk mereka, bahkan jika kehidupan mereka bisa jauh lebih buruk, mereka masih mengalami situasi yang tampaknya tak tertahankan yang membuat mereka ingin mati.

 

“Orang lain memiliki masalah yang lebih buruk daripada kamu dan mereka tak ingin mati.”

 

 

Benar, dan satu ia yang kamu sayangi ini sudah mempertimbangkan ini sebagai rasa malu. Orang-orang yang ingin mati sering membandingkan diri mereka dengan orang lain dan menjadi menginginkannya. Mereka bahkan mungkin merasa cacat atau rusak. Membandingkannya dengan orang lain yang mampu mengatasi lebih baik dari dirinya hanya akan memperburuk penghakiman atas dirinya sendiri.

 

 

“Bunuh diri adalah solusi permanen untuk masalah sementara.”

 

Saya kenal orang-orang, terutama remaja, yang merasa pernyataan ini adalah benar-benar membantu. Hal ini menyentuh mereka. Tetapi hal itu juga menyampaikan bahwa masalah orang itu bersifat sementara, ketika mereka merasa bukan siapa-siapa. Dalam situasi seperti itu, tujuan yang realistis bagi seseorang mungkin belajar untuk mengatasi masalah dan menjalani kehidupan yang bermakna kecuali dirinya. Masalah lain dengan pernyataan ini adalah menyampaikan pesan bahwa bunuh diri adalah solusi-permanen, ya, dan tetap sebuah solusi. Setidaknya, saya sarankan mengubah kata “solusi” menjadi “tindakan” atau “aksi,” hanya untuk menghindari kalimat itu memperkuat bahwa bunuh diri memang memecahkan masalah.

 

“Kamu akan pergi ke neraka jika mati karena ingin bunuh diri.”

 

Ia yang kamu sayangi mungkin sudah memikirkan kemungkinan ini. Bisa jadi mereka tidak percaya adanya neraka. Mungkin mereka percaya bahwa Tuhan yang mereka yakini akan mengampuni dirinya. Terlepas dari itu, keinginan mereka untuk mati tetap ada. Mengatakan bahwa mereka akan masuk neraka bisa memperburuk perasaan terasing.

 

Salah satu atau semua pikiran dan emosi di atas mungkin datang kepadamu. Namun tak berarti kamu salah atau buruk ketika memiliki reaksi seperti itu.

 

Bagaimana pun, kamu adalah manusia dan kamu mungkin merasa marah, sakit hati, serta dikhianati. Kamu tidak dapat mengontrol pikiran dan perasaan yang datang kepadamu. Kamu hanya dapat mengontrol apa yang kamu katakan atau lakukan dalam menanggapi pikiran dan perasaanmu.

 

Ketika seseorang mengungkapkan pikiran untuk bunuh diri kepada kamu, kata-kata dan tindakan dapat membantu orang yang bunuh diri berkurang perasaan merasa sendirinya dan, sebagai hasilnya, memiliki harapan. Pertanyaan yang baik untuk ditanyakan pada diri sendiri adalah, “Bagaimana bisa, apa yang saya ingin katakan dapat membantu orang ini? Bagaimana bisa hal yang saya katakan akan membahayakan?”

 

Jawaban kamu mungkin memiliki arti yang berbeda antara orang yang menjadi merasa terhakimi dan lebih mersa sendirian-atau merasa diterima dan dipahami.

 

Bagaimana Jika Sudah Terlanjur Mengatakannya?

 

Saya menduga bahwa jika saya berhenti mengetik tulisan di sini, saya akan menerima surel bernada panik dari orang-orang yang sudah bereaksi dengan cara, terutama yang tak membantu dan dimengerti.

 

Ketakutan dan kecemasan mereka mungkin telah tumpah keluar ketika mereka mendengar teman atau anggota keluarga mereka menyatakan keinginan untuk mati. Rasa takut dan kecemasan itu sangat bisa dimengerti. Begitulah reaksi di atas. Tapi apa yang harus dilakukan ketika apa yang telah dikatakan tidak dapat ditarik kembali?

 

Saran saya? Coba lagi. Kembali ke orang tersebut dan mengatakan bahwa kamu telah sadar bahwa tanggapanmu tidak membantu, bahwa kamu takut dengan kemungkinan kematian mereka dengan cara bunuh diri, tetapi kamu ingin membuang rasa takut dan lebih memahami keinginan mereka untuk mati sehingga kamu dapat menjadi telinga yang mendengarkan, mitra dalam perjuangan mereka, seorang partner yang membantu mereka agar berkurang rasa sendiri dan putus asanya.

 

Dan kemudian hal ini dapat membantu, yakni tanyakan beberapa kata yang paling penting dari itu semua, “Bagaimana aku bisa membantumu?”

 

Comment 3Sort by


user Anonim
2018/04/14 19:42

Masukkan pendapatmu disini9

Ayo kemukakan pendapatmu

Topik yang berkaitan dengan artikel ini

Daftar Kategori

Harap diperhatikan bahwa konten pada website sehatly.com tidak bisa untuk menggantikan peran seorang dokter ataupun praktisi kesehatannya. Konten-konten sehatly hanya bertujuan untuk memberikan informasi.