Menggali Lebih Dalam tentang Depresi Pasca Melahirkan

Sering kali orang dibingungkan dengan kecemasan dan depresi pasca melahirkan karena gejala yang hampir sama.
159
Depresi Pasca Melahirkan Bukan Sekedar Depresi

Beberapa tahun yang lalu, seorang ibu baru yang sedang saya rawat mengatakan kepada saya, “Saya siap dengan depresi pasca melahirkan, tetapi tidak ada yang mengatakan apa-apa tentang kecemasan setelah melahirkan.” Saya sering berpikir tentang komentarnya, dan saya teringat lagi baru-baru ini ketika sebuah keluarga baru mengunjungi saya. Sang ayah berkata, “Seseorang menjelaskan dengan singkat kepada kami selama kelas pendidikan persalinan tentang depresi pasca melahirkan. Karena dia [istrinya] yang sedang merawat bayi dengan sangat baik bahkan secara berlebihan, akan bekerja dan tidak menangis, kami tidak berpikir dia punya masalah. “Sebaliknya, sang ibu menyatakan, “Saya hanya khawatir, marah, dan suka memerintah dan saya merasa seperti setiap hal kecil menjadi luar biasa.”

Saya tersentak lagi dan lagi oleh berapa banyak keluarga yang mengatakan mereka tidak sepenuhnya diberitahu tentang kisaran komplikasi emosional perinatal yang mungkin mereka alami, meskipun komplikasi ini dikenal sebagai konsekuensi umum dari kehamilan.

Informasi tentang depresi pasca melahirkan / Depresi postpartum

 

Brosur khusus yang saya lihat tentang depresi pasca melahirkan sering berjudul seperti “Tanda dan Gejala Depresi Pasca Melahirkan.” Mungkin ada foto ibu melihat keluar jendela dengan bayinya yang tidak terlihat, atau ibu menangis dengan bayi di bahunya. Tidak menyebutkan ibu hamil (60 persen depresi dimulai sebelum atau selama kehamilan), tidak menyebutkan laki-laki (sekitar 10 persen ayah mengalami depresi perinatal) dan tidak ada penjelasan tentang gejala di luar yang biasanya berkaitan dengan depresi.

Saya melihat kurangnya informasi tentang komplikasi emosional perinatal sebagai masalah pemasaran yang menjadi penyebabnya. Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi gelombang informasi tentang depresi pasca melahirkan. Terlepas dari kenyataan bahwa media kadang-kadang masih mengelirukan antara depresi pasca melahirkan dan psikosis pasca melahirkan, rasanya seperti ada informasi yang jauh lebih banyak di luar sana daripada sebelumnya.

Berbagi kisah di media sosial

 

Yang dikarenakan sebagian perempuan yang berjuang dan berbagi kisah mereka di media sosial, serta upaya tak kenal lelah dari MotherWoman, Postpartum Progress, 2020 Mom Project, Postpartum Support International dan lain-lain, termasuk kerja yang dinamis dari National Coalition for Maternal Mental Health (Koalisi Nasional untuk Kesehatan Mental Ibu). Tapi apa yang tidak banyak ditekankan oleh masyarakat umum dan komunitas penyedia kelahiran adalah berbagai komplikasi emosional perinatal dan fakta bahwa begitu banyak dari mereka yang dimulai sebelum atau selama kehamilan.

Jadi apa yang bisa kita lakukan untuk depresi pasca melahirkan?

 

1. Mari kita memahami tentang gejala yang paling umum dari komplikasi emosional perinatal:

  • Gangguan tidur
  • Kemarahan/amarah
  • Ketidakmampuan untuk membuat keputusan
  • Merasa kewalaha
  • Kecemasan
  • Perawatan obsesif bayi
  • Isolasi yang mengganggu

Semua ini dapat terjadi selama kehamilan dan/atau pasca melahirkan, dan mereka umumnya tidak dibahas dalam kampanye depresi pasca melahirkan. Menariknya, sebuah studi tahun 2013 yang dipimpin oleh Katherine L Wisner, MD (Fakultas Kedokteran Feinberg, Universitas Northwestern) menemukan bahwa sekitar 62 persen perempuan yang diperiksa positif untuk depresi melakukan diagnosis kedua, dan 82 persen dari kelompok tersebut memiliki kecemasan. Yang konsisten dengan klien yang saya ketahui: depresi perinatal sering memiliki gejala yang sama dengan depresi dan kecemasan, yang menjadikannya sulit untuk dikenali jika kamu hanya mencari gejala depresi biasa pada periode perinatal.

 

2. Jika kamu pernah mengalami komplikasi emosional perinatal, ceritakan kisahmu dalam percakapan pribadi (dengan terapis, teman, keluarga dan lain-lain) atau forum publik; Saya sering menyarankan untuk menggunakan tagar #tellthetruth atau #treatmentworks jika kamu berbagi cerita di media sosial. Beritahu penyedia tentang pengalamanmu dan apa yang akan membantumu.

3. Periksalah daftar Postpartum Progress yang menakjubkan tersebut, yang merupakan daftar yang lebih komprehensif dari gejala-gejala yang dapat mendukung percakapan yang berharga dengan tim kelahiranmu.

4. Jika memungkinkan, carilah terapis yang memiliki keterampilan khusus dalam perawatan perinatal. Untuk ide-ide tentang bagaimana untuk mencari terapis, lihatlah tulisan saya sebelumnya di blog MotherWoman Huffington Post ini. Penting untuk mengetahui bahwa pengobatan bekerja, meskipun hanya 14 — 17 persen perempuan yang mengalami depresi perinatal mendapatkan pengobatan.

Dialog tentang perempuan dan depresi

 

Terakhir, kita harus mengubah dialog dari depresi pasca melahirkan ke komplikasi emosional perinatal. Bahasa ini dikembangkan oleh Dr Nancy Byatt dan MotherWoman, dan membantu keluarga untuk lebih memahami apa yang harus dicari, dan kapan. Jika kita bisa melakukan ini, kita akan bergerak dari percakapan tentang perempuan dan depresi. Hingga memastikan bahwa keluarga memiliki apa yang diperlukan untuk merawat diri mereka sendiri. Melalui ini, kita semua akan menjadi bagian dari melahirkan keluarga sehat.

Mara Acel-Green, MSW, LICSW, adalah seorang psikoterapis di Watertown, MA dan pemilik Strong Roots Counseling (sebuah situs konseling). Mara memiliki spesialisasi dalam kehamilan dan suasana hati dan kecemasan pasca melahirkan dan gangguan terkait. Selain praktek pribadinya dan posisi fakultas tambahan di Universitas Northeastern, dia adalah mantan Presiden Direksi Ibu Sehat, Bayi Sehat Massachusetts. Karya tulis Mara dapat dilihat pada Huffington Post, serta di website-nya di www.maragreen.com.

Comment 0Sort by


Ayo kemukakan pendapatmu

Topik yang berkaitan dengan artikel ini

Daftar Kategori

Harap diperhatikan bahwa konten pada website sehatly.com tidak bisa untuk menggantikan peran seorang dokter ataupun praktisi kesehatannya. Konten-konten sehatly hanya bertujuan untuk memberikan informasi.